Pembuatan SIM A/C Tangerang 2016

4_1_welcome
Gerbang Lokasi Pembuatan SIM

 

Pembuatan Sim untuk KTP Tangerang dan sekitarnya.

Tangerang (26/7/16). Hari itu saya berangkat dari rumah pukul 09.30 WIB menuju Polres Metro Tangerang dengan menggunakan GPS. Waktu perkiraan adalah 45-50 Menit tiba di lokasi. Saya memang tidak tahu jalan dan baru pertama kali membuat SIM di sana. Perjalanan saya tempuh dengan kendaraan roda dua dengan kecepatan maksimal yang bisa saya tempuh. Memang agak ngebut, karena mengejar datang pagi di lokasi untuk menghindari antrian yang katanya panjang dan lama. 30 Menit kemudian saya telah tiba di lokasi dan masuk dari pintu depan Polres Metro. Begitu masuk, saya tiba tiba di cegat oleh petugas yang berjaga di pintu depan tersebut. Lalu dengan sigap dia bertanya, “Mau kemana Pak?”. “Mau buat SIM baru Pak”, ujar saya. Kemudian petugas tersebut bertanya kembali, “Sudah ada janji sebelumnya Pak?”. Saya agak bingung dengan pertanyaan itu. Kemudian saya jawab tidak dan petugas itu menunjukkan lokasi pembuatan SIM baru tersebut. Lokasi pembuatan SIM itu terletak di dekat parkiran motor yang berada kira-kira di tengah Lokasi Polres Metro Tangerang. Agak sulit mencari parkiran kosong di lokasi parkir tersebut dan kebetulan ada seorang laki-laki paruh baya yang baru saja mengeluarkan motornya dan memanggil saya untuk parkir di tempat motornya keluar. Dengan hati lega, saya memutar balik motor saya untuk parkir di tempat laki-laki itu.

Jam menunjukkan pukul 10.15 WIB, sepertinya saya datang masih kurang pagi. Mengingat banyak teman-teman saya bilang, untuk datang lebih pagi ketika mau membuat SIM baru. Dengan tampang bodohnya, saya celingak-celinguk memandangi area Polres tersebut, saya masih bingung dimana lokasi pembuatan SIM itu. Saya juga ragu untuk bertanya kepada orang lain di sekitar situ, untuk menghindari calo-calo yang tidak jelas. Tujuan awal saya memang ingin mencoba membuat SIM dengan jalur resmi. Setelah berputar dua kali di lokasi itu, akhirnya saya menemukan pintu gerbang yang di jaga oleh petugas dan penuh dengan antrian warga sipil lainnya. Saya pikir, inilah tempat pembuatan SIM tersebut. Lalu saya ikut mengantri untuk masuk ke dalam lokasi tersebut. Salah satu petugas bertanya kepada saya, “Bapak mau buat SIM baru?” ujarnya. Kemudian saya jawab, “Iya Pak”. Lalu dia menunjukkan ruangan kecil di sebelah pos penjaga tersebut. “Silakan cek kesehatan dulu Pak”, katanya. Kemudian saya masuk ke ruangan kecil itu, hanya ada satu petugas wanita yang memakai seragam sipil dengan postur agak gemuk dan berkacamata. “Selamat Pagi Mba”, sapa saya memulai percakapan. Kemudian wanita itu mulai bertanya apakah saya ingin membuat SIM baru. Saya jawab, “Iya mba, saya mau buat SIM A dan C baru”. Lalu dia meminta fotokopi KTP saya untuk mengisi data saya di lembaran kuning. Kemudian, tanpa bicara lagi, wanita itu membuka lembaran yang saya lihat seperti buku uji buta warna. Saya di minta untuk menyebutkan angka-angka yang tertera di buku tersebut. Kemudian wanita itu mulai menulis isian di lembar kuning tersebut, lalu berkata.”Jadi 50 ribu ya Pak, ada 2 lembar untuk SIM A dan SIM C.”. Tanpa pikir panjang, saya mengeluarkan uang pas 50 ribu dari dalam dompet yang tanpa saya sadari, saya lupa meminta kwitansinya.

Untitled
Tag Peserta Uji SIM Baru

 

Setelah saya mendapatkan lembaran kuning tersebut, saya masuk ke gerbang lokasi pembuatan SIM itu. Dengan jaminan KTP asli, saya di izinkan masuk dengan menggunakan tag label, “PESERTA UJI SIM A/C BARU” yang saya kalungkan di leher saya. Kemudian saya beralih ke loket pembayaran asuransi yang sebelumnya telah di tunjukkan oleh petugas di gerbang tadi. Petugas di loket itu menanyakan SIM yang akan saya buat, karena saya ingin membuat SIM A dan C, petugas itu kemudian menagih uang sebesar 60 ribu untuk pembuatan dua buah kartu asuransi untuk setiap SIM tersebut. Setelah saya membayar lunas, saya mendapatkan tanda terima dan kartu asuransi tersebut sebanyak dua buah. Dari loket asuransi tadi, saya masih bingung, kemana lagi proses lanjutannya. Lalu saya melihat spanduk besar diatas ruang tunggu yang sudah dipenuhi orang-orang yang mengantri. Pada spanduk itu, sangat jelas sekali tertulis semua proses dan prosedur pembuatan SIM baru dari awal hingga akhir. Kemudian saya di kagetkan dengan seorang bapak penjual pena yang ada di sekitar lokasi tersebut, karena saya telah menyiapkan pena sebelumnya, saya tolak tawaran bapak penjual itu, sependengaran saya, dia menjual pena seharga 4 ribu untuk satu buah pena. Pandangan saya masih terpaku dengan penuh nya orang-orang yang sedang duduk mengantri panggilan dari pengeras suara yang disebutkan oleh petugas laki-laki dari balik setiap loket di lokasi itu.

IMG-20160726-WA0008.jpg.jpeg
Lapangan Uji Praktik SIM A dan C

 

Di tengah lokasi pembuatan SIM itu terdapat lapangan yang cukup lebar dengan terparkir 2 unit mobil untuk uji praktik dan 4 unit motor lengkap dengan helm nya. Kemudian saya melewati setengah lapangan tersebut ke arah kiri dari pintu gerbang depan untuk menuju ke loket pendaftaran SIM baru. Ada seorang petugas perempuan yang mengenakan seragam sipil di loket pendaftaran itu. Saya membeli 2 buah lembar pendaftaran untuk pembuatan SIM A dan C. Biaya untuk mendaftar SIM A adalah 120 ribu dan SIM C adalah 100 ribu. Kemudian saya mulai mengisi lembaran itu satu persatu, dengan data yang sesuai pada KTP saya. Cara pengisian lembaran itu sudah di contohkan dan di tempel pada meja tulis yang ada di depan loket pendaftaran itu. Saya hanya perlu menuliskan data-data lengkap dan jenis SIM yang saya inginkan. Setelah terisi semua, saya menyerahkan lembaran tersebut ke loket 3  yang di terima oleh petugas wanita yang ada disitu. Petugas itu tanpa banyak bicara, menyebutkan kepada saya untuk menunggu panggilan di pengeras suara. Saya mendapatkan tempat duduk dan beristirahat sejenak sambil minum minuman yang sudah saya bawa dari rumah. Tidak lama setelah itu, saya mendengar panggilan nama saya di pengeras suara dan diminta kembali ke loket 3. Ternyata petugas wanita itu lupa mengambil fotokopi KTP saya dan meminta sebanyak 3 lembar. Setelah saya berikan, saya ingin kembali duduk di tempat saya semula. Tapi sayangnya tempat duduk itu sudah di isi oleh sepasang laki-laki dan perempuan. Saya hanya bisa menghela nafas sejenak dan bermaksud untuk membakar rokok yang saya bawa. Saya tidak menemukan lokasi khusus perokok di lokasi pembuatan SIM itu, tapi saya melihat ada beberapa orang bapak-bapak duduk di depan ruangan uji teori yang sedang mengepulkan asap rokoknya. Kemudian saya berjalan menghampirinya dan mulai menghisap rokok yang saya bawa.

IMG-20160726-WA0009.jpeg
Motor yang di sediakan untuk uji praktik SIM C

 

45 menit sudah berlalu sejak saya menyerahkan fotokopi KTP saya, tapi saya belum mendengar petugas yang memanggil nama saya. Situasi di ruang tunggu tersebut telah di penuhi sesak oleh warga sipil yang ingin membuat SIM baru, saya mengenali mereka karena mereka menggunakan Tag yang sama dengan saya. Tiba-tiba saya mendengar nama saya di panggil di pengeras suara untuk masuk ke ruangan 7. Diruangan tersebut saya melihat ada beberapa wanita yang ikut menunggu untuk di foto, karena mereka sibuk berdandan di kaca membetulkan rambut dan makeup nya. Setelah lama menunggu sampai tidak ada orang, saya berinisiatif bertanya kepada petugas di ruangan itu dan dia tidak menemukan formulir atas nama saya dan saya di minta untuk kembali ke loket sebelumnya untuk menanyakan proses saya selanjutnya. Ternyata ada kesalah pahaman yang di berikan oleh petugas kepada saya. Saya seharusnya masuk ke ruangan 7A dan bukan ruangan 7. Antrian ini sepertinya semakin panjang saya rasakan. Dengan sabar saya menunggu kembali di ruangan 7A. Di ruangan ini data-data diri saya di identifikasi kembali untuk di periksa ketepatannya. Dari nama panjang, tempat tanggal lahir, tinggi badan dan alamat domisili. Setelah saya yakinkan benar, petugas ruangan 7A kemudian mengambil 2 buah foto saya secara langsung yang di ikuti dengan scan sidik jari dan tanda tangan di atas alat yang sudah di sediakan. Setelah selesai proses identifikasi data, saya kembali menunggu panggilan dari pengeras suara dan kembali duduk menunggu di ruang tunggu. Waktu sudah berjalan cukup lama dan saya memutuskan untuk kembali merokok di depan ruangan uji teori. Setelah saya habiskan 2 batang rokok, saya mendengar nama saya di panggil dan saya datang ke loket 3B untuk mengambil lembar formulir yang selanjutnya di berikan kepada petugas di dalam ruangan uji teori.

Proses berikutnya adalah uji teori yang berada di dalam ruangan tertutup yang di penuhi dengan komputer buildup branded berjumlah kira-kira 20 buah. Saya melapor kepada petugas yang berada disana dan petugas itu memberikan nomer registrasi yang langsung dapat di isikan di komputer tersebut. Setalah nomer registrasi saya isikan, halaman website itu pun berubah ke data-data pembuatan SIM baru atas nama saya. “Wah, semua sudah terkoneksi dengan baik di database prosesi pembuatan SIM baru ini”. Ujar saya dalam hati. Karena saya mengajukan dua buah SIM, maka saya harus mengikuti uji teori dua kali untuk SIM C dan SIM A. Uji teori tersebut di berikan waktu selama 15 menit untuk mengisi 30 soal pilihan. Kita hanya cukup mengklik mouse untuk memilih jawaban dan mengklik lagi untuk melanjutkan ke soal berikutnya. Setelah saya mengisi 30 jawaban itu, hasilnya bisa langsung kita lihat di layar komputer tersebut dan dengan sangat senang hati saya dinyatakan LULUS di uji teori di SIM A dan C. Petugas itu pun memberikan selamat, karena saya berhasil lulus di ke dua uji teori SIM A dan C itu, dan memberitahu proses selanjutnya ke loket nomer 6, dimana uji praktik di lakukan. Loket nomer 6 bersebelahan dengan ruangan uji teori. Setelah cukup lama menunggu di loket 6, seorang petugas pun keluar dari ruangan dan menuntun kami untuk menjelaskan proses uji praktik itu. Ada sekitar 5 orang yang bersama dengan saya untuk mengikuti uji praktik itu. Untuk SIM C, petugas tersebut hanya meminta kita mengikuti alur lintasan berbentuk angka 8 dan sebuah tempat berukuran 2 meter untuk mendemonstrasikan kita memutar motor yang kita kendarai tanpa kaki menyentuh tanah atau terjatuh. Lintasan berbentuk angka 8 di lingkari dengan balok kayu itu cukup mudah dan banyak dari tadi para peserta uji SIM berhasil melewati rintangan tersebut. Yang menjadi masalah dan cukup menegangkan adalah praktik memutar balik motor yang kita kendarai dengan radius putar kira-kira 2 meter yang di kelilingi oleh balok kayu. Kita tidak boleh menjatuhkan kaki ke tanah dan tidak boleh menyentuh balok kayu tersebut. Banyak sekali peserta yang gagal di ujian putar balik motor ini, kebanyakan dari mereka menjatuhkan kaki karena motor terlalu miring dan tidak cukup gas yang pelintir. Triknya sangat mudah sebenarnya. Pertama kamu ambil jenis motor matic dan pada saat mau memutar, pelintir gas setengah dan tahan laju motor dengan rem sambil membelokkan stang ke arah kanan (jika memutar ke kanan). Yakinkan diri bahwa kamu dapat memutar motor dengan baik tanpa jatuh dan menyentuh balok kayu.

IMG-20160726-WA0004.jpg.jpeg
Ruang Tunggu

 

Uji praktik berikutnya yang saya lakukan adalah Uji praktik untuk SIM A. Ada sedikit cerita lucu yang saya temui ketika mengantri hendak melakukan uji praktik mobil. Ada salah satu peserta perempuan yang nampaknya gugup dan bertanya kepada saya. “Mas, test mobil itu gimana ya nanti?”. Saya mencoba menjelaskan bahwa nanti mobil akan di berhentikan di tanjakan dan setelah itu parkir mundur di area yang sudah di sediakan. Lalu perempuan itu kembali bertanya, “Pas nanjak, pake gigi 1 ya mas?”. “Waduuh…” dalam hati saya, ini perempuan pasti bisanya pake mobil matic. Saya jawab, “Iya mba, tinggal koplingnya setengah aja di tahan sambil di gas agak tinggi ga papa.”. Perempuan itu malah terlihat makin gugup dan ragu untuk mengikuti uji praktik tersebut. Kemudian, tibalah waktunya petugas memanggil satu per satu peserta yang akan mengikuti uji praktik mobil tersebut, sampai dengan nama seorang perempuan yang saya yakinin dia adalah perempuan yang bertanya kepada saya. Petugas itu berusaha memanggil-manggil namanya beberapa kali, tapi tampaknya perempuan itu telah “melarikan diri”. “Ahahahahahah….” saya tertawa kecil di dalam hati. Mungkin dia pulang, karena takut dan tidak berani mencoba uji praktik dengan mobil jenis manual. Memang di lokasi pembuatan SIM tersebut, ada 2 buah mobil yang di parkir di lokasi dan keduanya adalah mobil berjenis transmisi manual.

Singkat cerita, saya gagal pada uji praktik mobil ini, sewaktu melakukan mundur untuk parkir, mobil saya menyenggol sebuah balok kayu di sebelah kanan hingga terjatuh. Wah sayang sekali, dan saya memang kurang perhitungan dalam melakukan manuver mundur yang hanya boleh dilakukan 1x mundur saja (tidak boleh maju untuk membetulkan posisi mobil). Petugas tersebut dengan ramah meminta saya mengulang uji praktik ini minggu depan. Setelah saya di nyatakan Lulus pada sesi uji SIM C, saya pun menunggu panggilan berikutnya untuk mendapatkan SIM C. Kala itu, sedang istirahat makan siang dan seluruh loket tertutup rapat. Saya tidak berniat untuk pergi dari lokasi untuk mencari makanan, karena saya kawatir nama saya terlewati ketika nanti di panggil. Untuk itu, sebaiknya kita menyiapkan makanan dan minuman ringan di dalam tas selagi kita menunggu dalam proses pembuatan SIM baru. Setelah selesai jam istirahat, nama saya pun di panggil untuk mengambil SIM C yang saya ajukan sejak tadi pagi. Lega rasanya mengikuti ujian teori dan praktik dengan jalur resmi tanpa calo. Saya akan datang lagi minggu depan terhitung 1 minggu setelah uji praktik SIM A saya yang gagal. Untuk mencoba kembali mengikuti ujian praktik mobil. Bagi kalian yang mengalami kegagalan pada uji teori dan praktik. Peraturan yang berlaku untuk mengulang kembali adalah tidak terbatas dan dilakukan pada minggu berikutnya (terhitung 7 Hari) sampai dinyatakan lulus. Jika dalam masa mengulang tidak datang lebih dari 30 hari, maka uang pendaftaran SIM bisa di ambil kembali.

20160726_105950.jpg
Bagan Pembuatan SIM baru

 

Ringkasan Biaya:

  1. Test Kesehatan (Test buta warna) Rp. 25,000
  2. Pembayaran Asuransi Jiwa Rp. 30,000
  3. Formulir SIM A Rp. 120,000
  4. Formulir SIM C Rp. 100,000

Masing-masing Formulir SIM memerlukan 1  lembar formulir kesehatan dan 1 lembar (kartu) asuransi jiwa.

Tutorial Ujian Teori Online:

http://korlantas.polri.go.id/soal-soal/

Beberapa soal banyak yang keluar pada saat uji teori SIM.

Google Map Lokasi Polres Metro Tangerang:

https://goo.gl/maps/Snnf1JV71tG2

Inilah informasi yang bisa saya berikan prihal pembuatan SIM baru A atau C di kota Tangerang. Terima kasih atas kesediaannya membaca cerita yang saya buat dengan sebenar-benarnya.

Salam,

MF

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s